Category Archive Health Care Policy

ByCPHI Unud

Kabupaten Bondowoso Berkomitmen Memasukan Capaian 10 LMKM Sebagai Indikator Stunting.

Terkait Dengan Komitmen menurunkan angka stunting di Kabupaten Bondowoso, GAIN Indonesia bersama Center for Public Health Innovation (CPHI) Fakultas Kedokteran Universitas Udayana memfasilitasi Penyusunan Program Berbasis Bukti (PBB) berdasarkan Hasil Asesmen 10 Langkah Menuju Keberhasilan Menyusui (LMKM).

Bondowoso 23-24 Mei 2019- Angka Gizi Buruk dari tahun ke tahun meningkat di Kabupaten Bondowoso, hal ini disinyalir akibat angka kemiskinan yang masih tinggi. Faktor-faktor ini menjadi salah satu penyebab angka stunting tinggi di Kabupaten Bondowoso. Bappeda Bondowoso memaparkan bahwa Bappeda sedang menyusun program Tape Manis; Tanggap Peduli Masyarakat Miskin untuk berkontribusi dalam penanggulangan masalah stunting di Kabupaten Bondowoso.

Kegiatan Penyusunan Program Berbasis Bukti (PBB) di Kabupaten Bondowoso dilaksanakan pada tanggal 22-23 Mei 2019 yang dilaksanakan di Hotel Ijen View, Bondowoso. PBB ini dihadiri oleh Bappeda, Dinas Kesehatan Kabupaten Bondowoso, district coordinator GAIN Indonesia, perwakilan Bidan Praktik Mandiri, Dinas Sosial, Puskesmas dan Rumah Sakit di lingkungan Kabupaten Bondowoso. Tim Center for Public health innovation (CPHI) Fakultas Kedokteran Universitas Udayana juga memfasilitasi kegiatan penyusunan Program Berbasis Bukti (PBB) dengan metode Bottle Neck Analysis yang menganalisis hambatan pelaksanaan 10 LMKM di Kabupaten Bondowoso. Dari hasil pertemuan & workshop stunting, menghasilkan pertemuan mengenai rencana kerja yang akan dilakukan OPD-OPD terkait dan fasyankes yang hadir untuk Kabupaten Bondowoso yang lebih baik.

Kepala Bidang Sosial Budaya, Bappeda Kabupaten Bondowoso menyatakan bahwa permasalahan-permasalahan yang kini Bondowoso hadapi merupakan suatu motivasi agar semua jajaran OPD serta Fasyankes dapat lebih maksimal dalam menuntaskannya dengan kerjasama lintas sektor yang lebih baik.

Strategi integrasi rencana kegiatan yang dihasilkan berdasarkan diskusi yaitu integrasi program, membuat Renja sosialisasi, pertemuan koordinasi, penyusunan program agar 10 LMKM masuk sebagai indokator stunting, mekanisme monitoring dan evaluasi sampai pada memasukan pelatihan serta membahas pertemuan untuk membahas rencana pelatihan kader dan non-medis. Hal ini juga ditambah dengan kehadiran Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Bondowoso dalam memberikan sambutan dan memaparkan mengenai cakupan ASI di Kabupaten Bondowoso menegaskan bahwa pihak dinas berkomitmen kedepannya untuk lebih gencar menyusun program kesehatan yang mendukung ASI dan sosialisasi 10 LMKM lebih gencar kepada para petugas kesehatan dan juga masyarakat. Perwakilan rumah sakit menambahkan bahwa dari hasil asesmen 10 LMKM yang menunjukkan persentase IMD masih rendah di fasilitas kesehatan ini, akan diupayakan kedepannya agar dapat lebih baik lagi dengan mensosialisasikan peraturan  mengenai hak/kewajiban tenaga kesehatan dan ibu, serta mengawasi penggunaan susu formula di fasilitas layanan kesehatan sehingga peredarannya dapat dikendalikan.

Hal ini juga dukungan dari OPD-OPD terkait yang mengusulkan akan memperbaiki sistem monitoring dan evaluasi serta mengadakan pelatihan untuk tenaga non-medis guna menunjang akses kesehatan masyarakat di posyandu dan juga kelas-kelas mendukung meningkatkan target capaian 10 LMKM. Sehingga dengan berbagai strategi yang telah dihasilkan dari diskusi workshop ini dapat mencapai cita-cita Kabupaten Bondowo yang semakin Melesat yang menjadi tagline unggulan dari Kabupaten Bondowoso.

Dari hasil penyusunan program berbasis bukti ini juga terdapat kesepakatan untuk disusun rencana agar kedepannya cakupan 10 LMKM agar dilaporkan kepada dinas kesehatan dan menjadikan 10 LMKM menjadi indikator stunting.

ByCPHI Unud

Bondowoso Melesat, Tagline Unggulan Kabupaten Bondowoso Mencapai Kabupaten Yang Mandiri Ekonomi, Lestari, Sejahtera, Adil dan Terdepan

Tanggal 23 Mei 2019, Tim CPHI tiba di Bondowoso untuk memfasilitasi kegiatan penyusunan Program Berbasis Bukti di Hotel Ijen View bersama dengan beberapa perwakilan OPD terkait dan fasilitas pelayanan kesehatan di lingkungan Kabupaten Bondowoso.

Kegiatan workshop ini berlangsung di tengah-tengah bulan puasa dengan antusias aktif dari para peserta yang hadir. Skeitar 14 orang hadir untuk bersama-sama menemukan sumbatan-sumbatan yang menghambat implementasi 10 Langkah Menuju Keberhasilan Menyusui dan stategi yang akan dilakukan kedepannya untuk mengatasi permasalahan ini dengan kerjasama lintas sektor.

Kehadiran Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Bondowoso dalam memberikan sambutan dan memaparkan mengenai cakupan ASI di Kabupaten Bondowoso menegaskan bahwa pihak dinas berkomitmen kedepannya untuk lebih gencar menyusun program kesehatan yang mendukung ASI dan sosialisasi 10 LMKM lebih gencar kepada para petugas kesehatan dan juga masyarakat.

Disamping itu, dalam workshop ini juga dihadiri oleh perwakilan rumah sakit yang menyampaikan bahwa dari hasil asesmen 10 LMKM yang menunjukkan persentase IMD masih rendah di fasilitas kesehatan ini, akan diupayakan kedepannya agar dapat lebih baik lagi dengan mensosialisasikan peraturan  mengenai hak/kewajiban tenaga kesehatan dan ibu, serta mengawasi penggunaan susu formula di fasilitas layanan kesehatan sehingga peredarannya dapat dikendalikan.

Hal ini juga dukungan dari OPD-OPD terkait yang mengusulkan akan memperbaiki sistem monitoring dan evaluasi serta mengadakan pelatihan untuk tenaga non-medis guna menunjang akses kesehatan masyarakat di posyandu dan juga kelas-kelas mendukung meningkatkan target capaian 10 LMKM.

Sehingga dengan berbagai strategi yang telah dihasilkan dari diskusi workshop ini dapat mencapai cita-cita Kabupaten Bondowo yang semakin Melesat yang menjadi tagline unggulan dari Kabupaten Bondowoso.

 

ByCPHI Unud

Komitmen Pemerintah Daerah dalam Pencegahan & Penanggulangan Stunting di Kabupaten Trenggalek

Terkait Dengan Komitmen menurunkan angka stunting di Kabupaten Bondowoso, GAIN Indonesia bersama Center for Public Health Innovation (CPHI) Fakultas Kedokteran Universitas Udayana memfasilitasi Penyusunan Program Berbasis Bukti (PBB) berdasarkan Hasil Asesmen 10 Langkah Menuju Keberhasilan Menyusui (LMKM).

Trenggalek 20-21 Mei 2019- Kabupaten Trenggalek dengan persentase Inisiasi Menyusu Dini (IMD) yang masih rendah di fasilitas layanan kesehatan ini berupaya untuk merencanakan program yang berfokus pada IMD di layanan kesehatan kedepannya. Cita-cita menjadi Kabupaten SDGs ini pula yang menjadi tujuan utama dalam penerapan perbaikan dan memaksimalkan program-program sayang ibu dan anak di rumah sakit. Kegiatan Penyusunan Program Berbasis Bukti (PBB) di Kabupaten Trenggalek dilaksanakan di Kantor Bappeda Kabupaten Trenggalek. PBB ini dihadiri oleh Bappeda, Dinas Kesehatan Kabupaten Bondowoso, district coordinator GAIN Indonesia, perwakilan Bidan Praktik Mandiri, Dinas Kominfo, Dinas Sosial, Puskesmas dan Rumah Sakit di lingkungan Kabupaten Probolinggo.

Tim Center for Public health innovation (CPHI) Fakultas Kedokteran Universitas Udayana memfasilitasi kegiatan penyusunan Program Berbasis Bukti (PBB) dengan metode Bottle Neck Analysis yang menganalisis hambatan pelaksanaan 10 LMKM dan Asesmen Stunting yang bulan lalu dilakukan oleh tim peneliti dan enumerator lokal. Adapun hal-hal yang dihasilkan pada workshop hari pertama adalah sumbatan atau sumber-sumber masalah yang Kabupaten Trenggalek hadapi terkait implementasi 10 LMKM, akar penyebab masalah dari 10 langkah yang ada di komponen-komponen 10 LMKM Strategi yang akan dilakukan kedepannya, pelaksana yang kana bertanggung jawab serta terlibat didalamnya sampai pada perencanaan alokasi dana yang akan mendukung.

Kegiatan hari pertama ini disambut dengan antusias oleh para peserta yang dihadiri oleh berbagai OPD terkait dan juga fasilitas layanan kesehatan di lingkungan Kabupaten Trenggalek. Para peserta saling berdiskusi mengenai strategi kedepannya dan merencanakan untuk memperkuat kebijakan agar dapat mencapai harapan semua pihak untuk menuju target nasional dimana di tahun 2019 ini dapat mencapai kabupaten SDGs.

Sedangkan pada hari kedua berfokus kepada strategi pencegahan dan penanggulangan stunting di Kabupaten Trenggalek menghasilkan solusi-solusi terkait strategi untuk menangani maraknya penggunaan susu formula di masyarakat dengan cara menerapkan surat perjanjian dari tenaga kesehatan dengan ibu dari anak jika susu formula benar-benar dibutuhkan berdasarkan resep dari tenaga kesehatan yang menangani. Hal ini mengacu dari salah satu pengalaman dari Dinas Kominfo Kabupaten Trenggalek. Selain itu pula akan semakin digalakkan lagi strategi untuk memaksimalkan kelas calon pengantin mengingat pernikahan dini masih cukup tinggi di Kabupaten Trenggalek. Para OPD terkait dan fasilitas layanan kesehatan berkomitmen untuk bersama-sama dalam menyusun program yang lebih baik kedepannya untuk mencegah dan menanggulangi stunting di Kabupaten Trenggalek.

ByCPHI Unud

Tim CPHI Menfasilitasi Penyusunan PBB di Kabupaten Trenggalek, Jawa Timur

Setelah dari Kabupaten Probolinggo, Tim Center for Public Health Innovation bertolak ke Kabupaten Trenggalek untuk kembali memfasilitasi Kegiatan Penyusunan Program Berbasis Bukti (PBB) untuk Kabupaten trenggalek berdasarkan hasil dari Asesmen 10 Langkah Menuju Keberhasilan Menyusui (LMKM) dan Asesmen Stunting yang bulan lalu dilakukan oleh tim peneliti dan enumerator lokal.

Adapun hal-hal yang dihasilkan pada Workshop hari pertama adalah sumbatan atau sumber-sumber masalah yang Kabupaten Trenggalek hadapi terkait implementasi 10 LMKM, Akar penyebab masalah dari 10 langkah yang ada di komponen-komponen 10 LMKM Strategi yang akan dilakukan kedepannya, pelaksana yang kana bertanggung jawab serta terlibat didalam nya sampai pada perencanaan alokasi dana yang akan mendukung.

Kegiatan hari pertama ini disambut dengan antusias oleh para peserta yang hadari dari berbagai OPD terkait dan juga fasilitas layanan kesehatan di lingkungan Kabupaten Trenggalek. Para peserta saling berdiskusi mengenai strategi kedepannya dan merencanakan untuk memperkuat kebijakan agar dapat mencapai harapan semua pihak untuk menuju target nasional dimana di tahun 2019 ini dapat mencapai kabupaten SDGs.

 

 

ByCPHI Unud

Pemaparan Hasil Asesmen Stunting Dan Advokasi Kepada Bappeda Kabupaten Probolinggo.

Terkait Dengan Komitmen menurunkan angka stunting di Kabupaten Probolinggo, GAIN Indonesia bersama Center for Public Health Innovation (CPHI) Fakultas Kedokteran Universitas Udayana memfasilitasi Penyusunan Program Berbasis Bukti (PBB) berdasarkan Hasil Asesmen 10 Langkah Menuju Keberhasilan Menyusui (LMKM) dan Hasil Asesmen Stunting.

Hari kedua di Kabupaten Probolinggo, kegiatan memfasilitasi penyusunan Program Berbasis Bukti dibuka oleh Kepala Bidang Litbang Bappeda Kabupaten probolinggo; Ibu Umi Setyowati, SSi., MAP dan menyampaikan mengenai kondisi stunting di Kabupaten Probolinggo.

Tim peneliti Center for Public Health Innovation memaparkan mengenai hasil asesmen stunting yang disampaikan oleh Dr. Pande Januraga dan difasilitasi oleh Dr. Dinar SM Lubis dalam penyusunan rencana kegiatan serta strategi pelaksanaanya.

Hasil pertemuan selama dua hari ini mendapatkan kesepakatan rencana kegiatan berupa revisi terhadap peraturan gubernur untuk memperkuat implementasi 10 LMKM, SOP untuk mengatur ASI Eksklusif, Rawat gabung, IMD, dan perbaikan mekanisme monitoring & evaluasi yang melibatkan berbagai OPD serta fasilitas layanan kesehatan di lingkungan Kabupaten Probolinggo. Selain itu juga dari diskusi disepakati untuk adanya pelatihan staff LMKM (konselor ASI & Non-klinis), perekrutan SDM terutama dokter anastesi.

Adapun strategi rencana kegiatan dari hasil diskusi adalah dengan pertemuan lintas sektor terkait rencana penyusunan program, pelatihan SDM terkait, dan juga memenuhi kebutuhan masing-masing fasilitas layanan kesehatan secara lebih optimal.

Kepala Bappeda juga memaparkan bahwa rembug stunting akan dilaksanakan setelah PAK pada bulan Mei sampai dengan juni 2019 sebagai salah satu langkah strategis untuk meningkatkan pembangunan kesehatan di Kabupaten Probolinggo. Kegiatan ini akan dipimpin oleh Bappeda bersama dengan Dinas Kesehatan, Fasilitas Kesehatan dan beberapa OPD terkait.

Kepala Bappeda berharap melalui dialog dan diskusi diantara berbagai OPD terkait yang difasilitasi oleh Center for Public Health Innovation, Fakultas Kedokteran Universitas Udayana, dapat menjadi salah satu strategi yang akan diadopsi nantinya sebagai usulan pembuatan kebijakan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan menurunkan angka stunting di Kabupaten Probolinggo.

Penyusunan Pembangunan Kesehatan kearah yang lebih baik ini diharapkan dapat meningkatkan cakupan ASI eksklusif sehingga status gizi anak meningkat dan menurunkan angka stunting di Kabupaten Probolinggo.

 

 

 

 

ByCPHI Unud

Research Conducted in East Java and East Nusa Tenggara

Pada awal tahun 2018 ini, CPHI berkesempatan untuk melakukan penelitian di dua provinsi di Indonesia yakni Jawa Timur dan Nusa Tenggara Timur. Penelitian yang dilakukan merupakan hasil kerja sama antara Nutrition International (NI) dengan CPHI untuk melakukan formative evaluation terhadap program pemberian tablet tambah darah pada remaja putri yang merupakan program milik Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Formative evaluation yang dilaksanakan bertujuan untuk memberikan informasi bagi pengembangan model KIE (komunikasi, informasi dan edukasi) yang tepat sasaran bagi remaja putri di dua provinsi yang berbeda dengan karakteristik penduduk yang juga berbeda satu sama lainnya.

Lokasi penelitian untuk di Jawa Timur berada di Kabupaten Situbondo dan Kabupaten Ngawi. Pemilihan dua lokasi tersebut didasarkan atas karakteristik dan budaya masyarakat yang berbeda, sebagai contoh masyarakat di Situbondo merupakan masyarakat yang kental dengan budaya madura sementara di Ngawi lebih mengarah ke budaya jawa. Perbedaan budaya tersebut secara tidak langsung mempengaruhi pola pemikiran, perilaku serta kebiasaan masyarakat didalamnya. Selain faktor budaya, faktor lain yang juga mendasari pemilihan di dua kabupaten tersebut yakni jumlah sekolah dan ketersediaan infrastruktur fasilitas kesehatan. Sementara untuk di Nusa Tenggara Timur, penelitian dilaksanakan di Kabupaten Sumba Tengah dan Kabupaten Manggarai Barat.

Proses pengumpulan data tidak hanya melibatkan siswa remaja putri di SMA sebagai penerima program TTD, namun penelitian ini juga menyasar kelompok lainnya seperti orang tua remaja putri, siswa laki-laki, guru, kepala sekolah, guru UKS, tenaga kesehatan hingga pemuka agama setempat. Terlibatnya remaja laki-laki hingga tokoh agama setempat sebagai partisipan penelitian dianggap dapat memberikan informasi pendukung yang dapat meningkatkan motivasi remaja putri untuk mau menerima dan mengonsumsi TTD serta untuk melihat hambatan yang mungkin muncul. Selain itu, hal ini dilakukan guna melihat peran lintas sektor yang terlibat dalam pelaksanaan program dan untuk memastikan bahwa pelaksanaan program TTD ini dapat diterima dengan baik serta dipahami maksud dan tujuannya bagi masa depan remaja putri.

Selain melakukan pengumpulan data, tim CPHI juga berkesempatan untuk menikmati indahnya pesona alam kepulauan Nusa Tenggara Timur seperti kepulauan padar di Manggarai Barat, danau asin di Weekuri Sumba Barat Daya, desa tradisional di Praijing Sumba dan hamparan pantai yang mampu melepas penat sekaligus mengembalikan semangat para tim untuk melakukan pengolahan data setiba di Bali.