Young Health Program PLAN International Indonesia

ByCPHI Unud

Young Health Program PLAN International Indonesia

Studi baseline ini menyimpulkan bahwa merokok tembakau masih prevalan di kalangan responden laki-laki berusia di atas 18 tahun pada ketiga daerah survey. Di daerah Mataram, merokok tembakau prevalan terjadi pada laki-laki muda yang berusia kurang dari 18 tahun. Mengenai merokok tembakau, orang muda yang berada dalam usia sekolah dapat dengan melakukan kontrol yang lebih ketat dari penerapan kebijakan zona bebas rokok di hampir semua sekolah di daerah tersebut. Meskipun dukungan normatif mengenai keyakinan yang tersebar luas bahwa orang muda tidak boleh merokok, anggota keluarga dewasa serta guru-guru belum dapat dijadikan panutan bagi orang muda, sehingga adalah penting untuk melibatkan guru-guru dan tokoh masyarakat yang dihormati sebagai mentor untuk program pencegahan dan berhenti merokok tembakau. Sementara untuk orang muda perempuan, yang akan menjadi korban perokok pasif, adalah perlu untuk memberdayakan mereka untuk menegosiasikan hak untuk tidak terpapar asap tembakau serta untuk melepaskan “kekerenan laki-laki” dari merokok tembakau juga sangat penting.

Penggunaan alkohol ditemukan lebih banyak pada responden laki-laki berusia lebih dari 18 tahun di Jagakarsa (daerah Srengseng) dan pada populasi yang lebih muda di Mataram, sehingga pendekatan berbasis masyarakat disarankan untuk Jagakarsa dan program pencegahan berbasis sekolah harus dilakukan di Mataram. Catatan lain adalah beban ganda atas merokok dan minum alkohol, di mana lebih dari setengah dari semua perokok juga minum alkohol terutama di Jagakarsa dan Mataram.

Kurangnya asupan sayuran dan buah-buahan, gaya hidup kurang bergerak dan konsumsi minuman kemas yang manis adalah prevalan di semua usia termasuk usia sekolah, sehingga intervensi berbasis sekolah untuk perilaku berisiko ini diperlukan.

Pemanfaatan dan kepuasan pelayanan kesehatan ramah remaja adalah rendah dengan lebih banyak laki-laki memanfaatkan pelayanan tersebut dibandingkan dengan mitra perempuan mereka. Norma jender yang bias mengenai hak KSR dan pengambilan keputusan tetap ada di masyarakat sehingga topik kesetaraan jender masih dibutuhkan. Hambatan untuk mengakses layanan PKPR terutama karena kurangnya permintaan dan kualitas pelayanan yang rendah. Sementara hambatan untuk penyediaan pelayanan berkualitas adalah alasan klasik kurangnya sumber daya manusia dan tidak adanya dana yang secara khusus dialokasikan untuk PKPR. Sementara untuk pos pelayan terpadu remaja atau Posyandu Remaja, program ini tidak ada di kedua daerah, yakni daerah Cibinong dan Jagakarsa.

About the author

CPHI Unud administrator

Center for Public Health Innovation whose activities focus on providing research in the public health sector.

Leave a Reply